Kamis, 21 Februari 2013

Propaganda dan Retorika

Oleh : Miftahudin Tauhidi

MASSA SEBAGAI KOMUNIKAN YANG RESPONSIF

Dalam sejarah digambarkan ada seorang dengan postur tubuh kecil dan pendek apalagi untuk ukuran orang eropa namun mempunyai taji yang besar karena kemampuan retorikanya yang tajam dan berapi-api,sebagaimana sejarah mencatat pada tanggal 28 september 1937 di maifeld berlin dalam rapat akbar ia mampu menjadi pusat perhatian 1.000.000 manusia dan orang tersebut adalah Hitler.

Didalam suasana di kumandangkanya lagu ’’ horst wessel’’ Hitler membangkitkan semangat bangsa jerman untuk berperang melawan bangsa di luar jerman yaitu ingggris, perancis rusia dan amerika serikat. hal ini di lukiskan oleh ‘denis de rougemont dalam journal de’allemagne atau kitab harian tentang jerman.diceritakan bahwa massa sebagai komunikan yang sangat setia dan jinak kepada majikanya (komunikator), namun massa bisa berubah menjadi buas apabila komunikatornya menghendaki. Ilustrasi diatas menggambarkan betapa krusialnya sentuhan propaganda dalam mempengaruhi perasaan (sentimen) massa lewat kemampuan berpidato (retorika).

Naiknya perasaan (sentimen) menyebabkan massa sangat mudah tersinggung,sangat fanatik ,semangat dan pemberani karena yang menjadi warna dominan dari massa adalah selalu ingin berbuat cepat tanpa memikirkan tanggung jawab sesudahnya. disamping itu massa juga menghendaki ketegasan, kekerasan dan keluarbiasaan sehingga massa akan mudah dikuasai oleh sosok yang kuat dan mampu memberikan harapan.

Karena sifatnya yang militan dan cenderung spontan yang muncul dalam kondisi tertentu maka Massa bisa dijadikan alat dan diperalat terutama oleh alat alat kekuasaan dan orang orang yang mempunyai kepentingan, massa akan bersifat konstruktif dan distruktif tergantung kepada orang yang menguasainya.

Suatu contoh massa yang bersifat konstruktif, yaitu pada saat pembangunan pyramid di mesir pada jaman kerajaan firaun yang mengerahkan berpuluh ribu manusia kemudian pada pembangunan the great walls (tembok besar di china) serta pembangunan candi borobudur dan prambanan di indonesia menjadi contoh lain massa yang lumasi dan diarahkan untuk tujuan konstruktif.

Sedangkan peristiwa penyerbuan penjara bastille di perancis pada 14 juli 1789 dan reformasi di indonesia di bulan oktober sampai penghujung tahun 1998,yang berakhir dengan tumbangnya orde baru serta rangkain peristiwa yang terus berlanjut hingga awal tahun 1999 menjadi contoh daya ledak massa dalam menghancurkan tatanan lama dan menumbuhkan tatanan baru diatas puing puingnya.

Keberadaan massa pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis dari kebebasan berserikat dan berkumpul akan tetapi massa juga bisa mengada akibat dari pengekangan hak hak individu dan pembebanan kewajiban secara sepihak baik dari dominasi mayoritas maupun tirani minoritas atau karena adanya ketidakadilan,diskriminasi dan ketimpangan.

Massa yang muncul karena dipicu faktor faktor tersebut merembet dan sampai kepermukaan melalui proses interelasi kolektivitas daya (collective power) antar individu akibat akumulasi ketidaknyamanan yang semakin membengkak dan terhimpun menjadi ketegangan kolektif (collective excitment) sebagai luapan perasaan bersama yang tidak terkendali.

Dari uraian tersebut diatas, tampak bahwa meskipun bersifat situasional massa bisa menjadi saham yang besar bagi komunikator bahkan untuk merebut kekuasaan yang sah sekalipun (coup d’ etat).

RETORIKA MENGGUSUR PARADIGMA
Retorika bisa di jadikan ukuran terhadap reputasi dan popularitas seseorang yaitu didalam kemampuan menginterprestasikan simbol simbol yang ada pada diri orang lain,sekalipun seseorang mempunyai kepandaian hebat namun ia akan sulit di kenal masyarakat tanpa kepandaian berbicara.

Seperti yang pernah di katakan aristoteles (530-468 SM) seorang pemikir sekaligus panglima perang dizaman yunani bahwa:
Tanpa kecakapan berbicara kita tidak mungkin dapat mendekati saudara, orang tua, sahabat, kenalan, lawan atau kawan.

Berbicara adalah lebih tinggi derajatnya dari berbuat, sebab berbuat hanyalah anasir yang diabdikan sedangkan berbicara adalah pernyataan jiwa, jadi anasir yang menciptakan, anasir yang berkuasa.

Terlepas dari setuju atau tidaknya dengan peryataan aristoteles tersebut yang perlu ditekankan yaitu unsur “menciptakan” apa yang diciptakan menurut aristoteles tersebut suatu asumsi bahwa yang diciptakan adalah situasi atau kondisi yang menyenangkan, ketentraman, kedamaian, setuju , menerima dan lain lain.

Terjadinya berbagai konflik antar individu,antar suku ,antar agama dan antar ras bahkan peperangan antara negara yang satu dengan negara lainya pada dasarnya adalah produk bicara yang “gagal’’ atau tidak mencapai kesepakatan atau karena terjadi silang faham yang semakin jauh,sehingga perang kata meningkat menjadi perang urat nadi (psy war) bahkan lebih jauh lagi menjadi perang terbuka dengan peluru dan dentuman meriam.

semoga rahim HMI terus melahirkan para konseptor, orator dan eksekutor yang ulung dan mumpuni.

yakusa.

Perspektif Agama dalam Kehidupan

Oleh : Husnul Yaqin
 
Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi"
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :

  1. Karena agama merupakan sumber moral
  2. Karena agama merupakan petunjuk kebenaran 
  3. Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  4. Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa . sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78

Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
  1. Godaan dan rayuan kepada kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah atau kebaikan.
  2. Godaan dan rayuan kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan
Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.

Fungsi Agama Kepada Manusia

Dari segi pragmatisme seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup.
Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:

  • Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainka sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT. 

  • Menjawab berbagai  persoalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
  • Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

  • Memainkan fungsi kawanan sosial. 
Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial

Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor).
Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat.

Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.

Fungsi Disintegratif Agama
Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain.

Tujuan Agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama


Beberapa tujuan agama yaitu :
  1. Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Esa (tahuit). 
  2. Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan  baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat
  3. Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah. 
  4. Menyempurnakan akhlak manusia.
Fungsi pertama agama, ialah mendefinisikan siapakah saya dan siapakah Tuhan, serta bagaimanakah saya berhubung dengan Tuhan itu. Bagi Muslim, dimensi ini dinamakan sebagai hablun minaLlah dan ia merupakah skop manusia meneliti dan mengkaji kesahihan kepercayaannya dalam menghuraikan persoalan diri dan Tuhan yang saya sebutkan tadi. Perbincangan tentang fungsi pertama ini berkisar tentang Ketuhanan, Kenabian, Kesahihan Risalah dan sebagainya.

Kategori pertama ini, adalah daerah yang tidak terlibat di dalam dialog antara agama. Pluralisma agama yang disebut beberapa kali oleh satu dua penceramah, TIDAK bermaksud menyamaratakan semua agama dalam konteks ini. Mana mungkin penyama rataan dibuat sedangkan sesiapa sahaja tahu bahawa asas agama malah sejarahnya begitu berbeza. Tidak mungkin semua agama itu sama!

Manakala fungsi kedua bagi agama ialah mendefinisikan siapakah saya dalam konteks interpersonal iaitu bagaimanakah saya berhubung dengan manusia. Bagi pembaca Muslim, kategori ini saya rujukkan ia sebagai hablun minannaas.

Ketika Allah SWT menurunkan ayat al-Quran yang memerintahkan manusia agar saling kenal mengenal (Al-Hujurat 49: 13), perbezaan yang berlaku di antara manusia bukan sahaja meliputi perbezaan kaum, malah agama dan kepercayaan. Fenomena berbilang agama adalah seiring dengan perkembangan manusia yang berbilang bangsa itu semenjak sekian lama.

Maka manusia dituntut agar belajar untuk menjadikan perbedaan itu sebagai medan kenal mengenal, dan bukannya gelanggang krisis dan perbalahan.

Untuk seorang manusia berkenalan dan seterusnya bekerjasama di antara satu sama lain, mereka memerlukan beberapa perkara yang boleh dikongsi bersama untuk menghasilkan persefahaman. Maka di sinilah, dialog antara agama (Interfaith Dialogue) mengambil tempat. Dialog antara agama bertujuan untuk menerkai beberapa persamaan yang ada di antara agama. Dan persamaan itu banyak ditemui di peringkat etika dan nilai.


Rabu, 20 Februari 2013

Wajah Pendidikan Indonesia


Pelaksanaan pendidikan di indonesia selama ini malah menjadi sumber masalah daripada potensi pemecahan masalah. Di sisi lain dari tahun ke tahun perubahan yang di lakukan pemerintah hanyalah berupa kosmetik, atau sekedar di obok-obok. Padahal yang di butuhkan justru perubahan mendasar, yakni pada landasan falsafa pendidikan itu sendiriyang selama ini nyaris tak pernah di bicarakan oleh penyelenggara pendidikan nasional.

Makna sekolah sekolah yang ada di indonesia,, yang ridak lebih baik dari orang- orang yang memperjual belikan sarjana. Kondisi ini merupakan penyempitan konsep pendidikan menjadi sekedar konsep yang formal. Pendidikan hanya di pandang sebagai lulusan sekolah saja. Pada akhirnya sarana pendidikan seperti sekolah hanya menjsdi sebuah pabrik yang harus memenuhi target dalam menciptakan lulusan lulusan yang sudah tercetak seperti yang di inginkan lembaga pembuat nya, dan menghilangkan kemampuan dan daya kreatifitas yang dimiliki individu, belum lagi dimana kondisi sekolah dan universitas dijadikan lahan bisnis yang handal, dan sebagai konpensasi tersedia nya sarana yang baik, maka setiap siswa dan mahasiswa harus mempunyai dana yang besar.

Lebih spesifikasi lagi, seperti hal nya UKT( uang kuliah tunggal ) yang diterapkan di perguruan tinggi di indonesia, bisa menjadi polemik dan berdampak sistemik di dalam pendidikan. Karna dengan di adakan nya UKT, ini bisa menjadi lahan korupsi bagi penyelenggara pendidikan di perguruan-perguruan tinggi.

Uang kuliah tunggal(UKT)adalha suatu sistem pemerintah yang dimana seluruh biaya dari awal hingga akhir di akumulasikan menjadi satu, sehingga tidak ada lagi biaya embel-embel yang lain yang memberatkan mahasiswa. Tapi nyata nya dengan UKT ini mahasiswa bebani dengan sistem tersebut. Dengan di akumulasikan semua biaya dari awal sampai akhir, biaya  per semester menjadi naik,yang menyebab kan UKT tidak berjalan dengan baik  adalah ketidak transparannya penghitungan akumulasi biaya tersebut, jadi ukt itu sangat rawan sekali dengan korupsi.

Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, dan tidak akan berhenti hingga akhir hidup manusia.di dalam proses pendidikan ini keluhuran martabat manusia di pegang erat karena manusia sebagai “ subyek” dari pendidikan .Melalui pendidikan , manusia meyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkunganya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia sebagai insan yang sadar diri dan sadar lingkungan