Sabtu, 23 Februari 2013

Indonesia dalam Ancaman WTO

Oleh : Husnul Yaqin
Jakarta, 24 februari 2013

WTO adalah organisasi yang mengatur perdagangan dunia dengan menuntut Negara-negara anggotanya untuk membuka pasar seluas-luasnya bagi perdagangan internasional melalui penghapusan berbagai hambatan dalam perdagangan baik dalam bentuk tarif maupun non-tarif. Indonesia resmi mejadi anggota WTO melalui ratifikasi UU No.7 tahun 1994 tentang Ratifikasi pembentukan WTO.

Kami segenap Himpunan mahasiswa Islam mendesak agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan DPR untuk mengeluarkan Indonesia dari keanggotaan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pasalnya, pada level dunia, WTO telah melemahkan daya saing Indonesia, sedang didalam negeri berdampak pada meluasnya praktik korupsi dan impor pangan.

Konsekuensi lainnya, berdampak pada masifnya laju alih fungsi lahan pertanian dan hutan produktif untuk kegiatan pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit, yang secara langsung memperparah penindasan dan pemiskinan rakyat Indonesia, baik laki-laki dan perempuan.

Sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq, ditangkap oleh KPK atas dugaan keterlibatannya dalam permainan kuota impor daging. Berdalih untuk melindungi kepentingan nasional terhadap aturan WTO yang melarang pembatasan impor, penetapan kuota impor telah menimbulkan persekongkolan antara importir dengan pemerintah. Pada konteks inilah impor produk pangan menjadi bisnis yang identik dengan praktik manipulatif hingga koruptif.

Pada tahun 2012, impor produk pangan Indonesia telah menyedot anggaran lebih dari Rp 125 triliyun. Dana tersebut digunakan untuk impor daging sapi, gandum, beras, kedelai, ikan, garam, kentang,  dan komoditas pangan lain yang pada akhirnya memperparah kehidupan rakyat, utamanya perempuan. Akibat dari maraknya impor pangan, khususnya di sektor perikanan, telah menyebabkan industri perikanan indonesia sedikit menyerap tenaga kerja. Kurun 2009-2011 industri pengolahan ikan hanya mampu menyerap sekitar 250 ribu jiwa.

Tidak hanya itu, WTO juga telah menempatkan Indonesia pada posisi lemah hingga tidak berdaulat berhadapan dengan bangsa-bangsa di dunia. Pada Januari 2013, Amerika Serikat (AS) telah mengajukan gugatan kepada WTO terhadap kebijakan impor produk hortikultura. Indonesia dituding terlalu protektif dan harus membuka keran impor hortikultura. Tak lama setelahnya, AS kembali mempermasalahkan bantuan kepada petambak udang di Indonesia yang ditengarai sebagai praktik dumping. Serta tak lupa kasus rokok kretek beberapa tahun lalu.

Rejim perdagangan bebas WTO telah mengancam hak bangsa dan negara kita untuk menentukan kebijakan pangan dan pertanian yang berguna untuk kepentingan Indonesia. Terutama dalam pemaksaan membuka keran impor, pasal-pasal dalam WTO (dan juga perjanjian perdagangan bebas, FTA) jelas menggerus kedaulatan pangan kita. Pasar dan harga domestik hancur. Oleh karena itu, Kami segenap Himpunan mahasiswa Islam, mendesak:
  1. Presiden Indonesia untuk melakukan moratorium terhadap perjanjian-perjanjian perdagangan internasional yang diikuti dengan evaluasi terhadap berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah diikatkan sebelumnya, baik dalam tingkat WTO maupun FTA regional dan bilateral, yang merugikan kepentingan nasional dan bertentangan dengan konstitusi.
  2. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia untuk segera membatalkan proses penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Perdagangan yang dalam pandangan kami, berdasarkan Naskah Akademik RUU Perdagangan versi 2012, bahwa RUU tersebut telah menghilangkan kedaulatan ekonomi Indonesia dan sepenuhnya mengadopsi prinsip-prinsip dan aturan WTO.
  3. Secara khusus terkait rencana Pertemuan APEC dan WTO, dimana Indonesia sebagai tuan rumah, kami meminta presiden maupun DPR untuk tidak menggunakan momentum tersebut untuk meliberalisasi sektor-sektor strategis nasional dengan mengikatkan diri diberbagai perjanjian perdagangan bebas (FTA), termasuk pangan dan pertanian yang akan memperkuat penindasan dan pemiskinan.

Oleh sebab itu, kami Himpunan Mahasiswa Islam mengajak segenap rakyat Indonesia, khususnya petani, nelayan, pedagang mikro dan kecil, buruh, termasuk buruh migran, dan perempuan untuk terlibat aktif melakukan koreksi terhadap berbagai kebijakan liberalisasi perdagangan diseluruh sektor. Perlawanan terhadap WTO ini akan juga menjadi perlawanan terhadap perjanjian perdagangan bebas lainnya yang merugikan kepentingan rakyat.

Esensi Mukaddimah AD/ART HMI



Oleh  : Afandi Shomar

Manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk mengabdikan diri atas segala anjuran, perintah serta larangan Allah SWT yang mencakup aspek duniawi, ukhrawi, individu dan sosial serta ilmu dan amal untuk suatu tujuan keselamatan manusia dan alam semesta beserta isinya. Kehadiran islam di Indonesia untuk mengadakan pembaharuan ditengah masyarakat wilayah Indonesia khususnya interaksi sosial budaya masyarakat pada saat itu bersifat feodal dengan strata sosial masyarakat yang sangat kentara pada masa wilayah negara indonesia saat ini yang terbagi dalam batas-batas kekuasaan raja-raja kecil yang nota-bene sebagaian besar dari raja-raja itu merupakan antek-antek belanda yang ditunggangi oleh kelompok zionis dengan misi-misinya anti Islam yang ditandai dengan kehadiran snouck hunggronje di Indonesia yang kita kenal salah satu prestasi yang dihasilkan dengan kehadirannya di wilayah indonesia mampu meberangus kelompok masyarakat islam di aceh dengan strategi pelesetan ajaran islam yang murni.

Kesadaran orang-orang belanda untuk membentuk suatu struktural komando di wilayah indonesia pada saat itu berbarengan dengan kesadaran masyarakat pribumi yang ditandai dengan munculnya budi utomo tahun 1908. Perseteruan kepentingan kelompok belanda dengan kelompok pribumi di Indonesia dimulai secara perlahan, dari perbedaan pendapat secara elegan yang terus berkembang sampai pada tahap bentrokan fisik antara pribumi dengan belanda. Masyarakat pribumi selanjutnya menggandeng jepang sebagai kekuatan tambahan untuk mengalahkan belanda yang dipelopori oleh Ir. Soekarno yang kemudian kehadiran jepang di wilayah indonesia, tergiur dengan kekayaan alam yang ada diwilayah negara Indonesia saat ini.

Pergeseran tujuan kehadiran para tentara jepang cepat ditangkap oleh generasi muda pribumi pada saat itu. Perseteruan antara tentara jepang dengan kelompok-kelompok pemuda pribumi tidak dapat dihindari dan berakhir pada peristiwa penjatuhan bom atom di hirosima dan nagasaki yang mana peristiwa itu memaksa jepang untuk menyerah pada sekutu maka, tentara jepang di Indonesia harus tunduk pada sekutu sehingga kondisi Indonesia pada saat itu dalam keadaan kosong kekuasaan “vacum of power”. Kondisi itu selanjutnya dibaca oleh pemuda pribumi dan dimanfaatkan untuk deklarasi negara kesatuan republik Indonesia yang kita kenal dengan proklamsi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dua tahun pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia generasi muda indonesia ditingkat mahasiswa menyadari akan pentingnya pembinaan kelompok muda muslim yang mempunyai kadar intelektualitas untuk mengorganisir diri yang kemudian bentuk tersebut menamakan dirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dipelopori oleh Lapran Pane. Organisasi tersebut secara sah berdiri pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H. Bertepatan dengan 5 Februari 1947 M. Setelah negara Indonesia berumur dua tahun dalam rangka mempertegas diri untuk membabat sisa-sisa budaya belanda di Idonesia yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Snouck Hunggronje sang Zionis sejati yang merupakan organisasi kelompok Yahudi dengan tujuan untuk menguasai dunia terutama Islam yang menjadi musuh utama bagi Yahudi.

Kamis, 21 Februari 2013

Propaganda dan Retorika

Oleh : Miftahudin Tauhidi

MASSA SEBAGAI KOMUNIKAN YANG RESPONSIF

Dalam sejarah digambarkan ada seorang dengan postur tubuh kecil dan pendek apalagi untuk ukuran orang eropa namun mempunyai taji yang besar karena kemampuan retorikanya yang tajam dan berapi-api,sebagaimana sejarah mencatat pada tanggal 28 september 1937 di maifeld berlin dalam rapat akbar ia mampu menjadi pusat perhatian 1.000.000 manusia dan orang tersebut adalah Hitler.

Didalam suasana di kumandangkanya lagu ’’ horst wessel’’ Hitler membangkitkan semangat bangsa jerman untuk berperang melawan bangsa di luar jerman yaitu ingggris, perancis rusia dan amerika serikat. hal ini di lukiskan oleh ‘denis de rougemont dalam journal de’allemagne atau kitab harian tentang jerman.diceritakan bahwa massa sebagai komunikan yang sangat setia dan jinak kepada majikanya (komunikator), namun massa bisa berubah menjadi buas apabila komunikatornya menghendaki. Ilustrasi diatas menggambarkan betapa krusialnya sentuhan propaganda dalam mempengaruhi perasaan (sentimen) massa lewat kemampuan berpidato (retorika).

Naiknya perasaan (sentimen) menyebabkan massa sangat mudah tersinggung,sangat fanatik ,semangat dan pemberani karena yang menjadi warna dominan dari massa adalah selalu ingin berbuat cepat tanpa memikirkan tanggung jawab sesudahnya. disamping itu massa juga menghendaki ketegasan, kekerasan dan keluarbiasaan sehingga massa akan mudah dikuasai oleh sosok yang kuat dan mampu memberikan harapan.

Karena sifatnya yang militan dan cenderung spontan yang muncul dalam kondisi tertentu maka Massa bisa dijadikan alat dan diperalat terutama oleh alat alat kekuasaan dan orang orang yang mempunyai kepentingan, massa akan bersifat konstruktif dan distruktif tergantung kepada orang yang menguasainya.

Suatu contoh massa yang bersifat konstruktif, yaitu pada saat pembangunan pyramid di mesir pada jaman kerajaan firaun yang mengerahkan berpuluh ribu manusia kemudian pada pembangunan the great walls (tembok besar di china) serta pembangunan candi borobudur dan prambanan di indonesia menjadi contoh lain massa yang lumasi dan diarahkan untuk tujuan konstruktif.

Sedangkan peristiwa penyerbuan penjara bastille di perancis pada 14 juli 1789 dan reformasi di indonesia di bulan oktober sampai penghujung tahun 1998,yang berakhir dengan tumbangnya orde baru serta rangkain peristiwa yang terus berlanjut hingga awal tahun 1999 menjadi contoh daya ledak massa dalam menghancurkan tatanan lama dan menumbuhkan tatanan baru diatas puing puingnya.

Keberadaan massa pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis dari kebebasan berserikat dan berkumpul akan tetapi massa juga bisa mengada akibat dari pengekangan hak hak individu dan pembebanan kewajiban secara sepihak baik dari dominasi mayoritas maupun tirani minoritas atau karena adanya ketidakadilan,diskriminasi dan ketimpangan.

Massa yang muncul karena dipicu faktor faktor tersebut merembet dan sampai kepermukaan melalui proses interelasi kolektivitas daya (collective power) antar individu akibat akumulasi ketidaknyamanan yang semakin membengkak dan terhimpun menjadi ketegangan kolektif (collective excitment) sebagai luapan perasaan bersama yang tidak terkendali.

Dari uraian tersebut diatas, tampak bahwa meskipun bersifat situasional massa bisa menjadi saham yang besar bagi komunikator bahkan untuk merebut kekuasaan yang sah sekalipun (coup d’ etat).

RETORIKA MENGGUSUR PARADIGMA
Retorika bisa di jadikan ukuran terhadap reputasi dan popularitas seseorang yaitu didalam kemampuan menginterprestasikan simbol simbol yang ada pada diri orang lain,sekalipun seseorang mempunyai kepandaian hebat namun ia akan sulit di kenal masyarakat tanpa kepandaian berbicara.

Seperti yang pernah di katakan aristoteles (530-468 SM) seorang pemikir sekaligus panglima perang dizaman yunani bahwa:
Tanpa kecakapan berbicara kita tidak mungkin dapat mendekati saudara, orang tua, sahabat, kenalan, lawan atau kawan.

Berbicara adalah lebih tinggi derajatnya dari berbuat, sebab berbuat hanyalah anasir yang diabdikan sedangkan berbicara adalah pernyataan jiwa, jadi anasir yang menciptakan, anasir yang berkuasa.

Terlepas dari setuju atau tidaknya dengan peryataan aristoteles tersebut yang perlu ditekankan yaitu unsur “menciptakan” apa yang diciptakan menurut aristoteles tersebut suatu asumsi bahwa yang diciptakan adalah situasi atau kondisi yang menyenangkan, ketentraman, kedamaian, setuju , menerima dan lain lain.

Terjadinya berbagai konflik antar individu,antar suku ,antar agama dan antar ras bahkan peperangan antara negara yang satu dengan negara lainya pada dasarnya adalah produk bicara yang “gagal’’ atau tidak mencapai kesepakatan atau karena terjadi silang faham yang semakin jauh,sehingga perang kata meningkat menjadi perang urat nadi (psy war) bahkan lebih jauh lagi menjadi perang terbuka dengan peluru dan dentuman meriam.

semoga rahim HMI terus melahirkan para konseptor, orator dan eksekutor yang ulung dan mumpuni.

yakusa.